وَعَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِي حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ يَقُوْلُ : ( إنّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِىءٍ مَا نَوَى ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا، أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكَحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْه ) .
Dan dari Amirul-Mukninin Abu Hafsh Umar bin Al-Khaththab ia berkata,”Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda,’Hanya sanya Amal-amal itu beserta niat, dan hanya sanya bagi setiap orang apa yang ia niatkan, maka siapa yang hijrahnya itu karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu karena Allah dan Rasul-Nya, dan siapa yang hijrahnya itu karena dunia yang ia ingin memperolehnya, atau perempuan yang ingin ia nikahinya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ia niatkan hijrah padanya”.
(HR. Bukhari)
Niat Secara bahasa bermakna:
اَلْقَصْدُ
“Maksud/tujuan”
Sedangkan menurut syar’i adalah
قَصْدُ الشِّيْءِ مُقْتَرَنًا بِفِعْلِهِ
“Memaksudkan sesuatu dengan disertai melakukannya”.
(Nuzhatul-Muttaqien,I:20)
خَصَّصَهُ بِاْلإِرَادَةِ الْمُتَوَجِّهَةِ نَحْوَ الْفِعْلِ لِابْتِغَاءِ رِضَاءِ اللهِ وَامْتِثَالِ حُكْمِهِ
Ia (Al-Baidhawi) mengkhususkan niat dengan keinginan yang menghadap ke arah perbuatan karena mengharapkan ridha Allah dan mengikuti putusan-Nya.
(Raudhatul-Muttaqien,I:34)
وَهِيَ عَمَلٌ قَلْبِيٌّ مَحْضٌ لاَ دَخَلَ لِلِّسَانِ فِيْهِ. وَالتَّلَفُّظُ بِهَا غَيْرُ مَشْرُوْعٍ.
(Niat) adalah merupakan amal hati yang murni yang tidak masuk padanya (amal) lisan. Sedangkan melafadkannya itu tidak disyariatkan.
(Fiqih Sunnah,I:38)
اَلنِّيَّةُ مَحَلُّهَا الْقَلْبُ، وَلاَ مَحَلَّ لَهَا فِي اللِّسَانِ فِي جَمِيْعِ اْلأَعْمَالِ وَلِهَذَا كَانَ مَنْ نَطَقَ بِالنِّيَّةِ عِنْدَ إِرَادَةِ الصَّلاَةِ أَوِ الصَّوْمِ أَوِ الْحَجِّ أَوِ الْوُضُوْءِ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ مِنَ اْلأَعْمَالِ كَانَ مُبْتَدِعًا قَائِلاً فِي دِيْنِ اللهِ مَا لَيْسَ مِنْهُ. لِأَنَّ النَّبِيَّ كَانَ يَتَوَضَّأُ وَيُصَلِّي وَيَتَصَدَّقُ وَيَصُوْمُ وَيَحُجُّ وَلَمْ يَنْطِقْ بِالنِّيَّةِ، وَذَلِكَ لِأَنَّ النِّيَّةَ مَحَلُّهَا الْقَلْبُ.
Niat itu tempatnya adalah hati, dan tidak ada tempat baginya pada lisan dalam seluruh amal-amal, oleh karena itu siapa yang mengucapkan niat ketika hendak shalat, shaum, haji, wudhu, dll. dari amal-amal adalah orang yang melakukan bidah yang mengatakan pada agama Allah sesuatu yang tidak ada daripadanya. Karena Nabi saw. berwudhu, shalat, bersedekah, shaum, dan haji, tetapi tidak mengucapkan niat, dan yang demikian itu adalah karena niat itu tempatnya adalah hati.
(Syarah Riyadhush-Shalihin)
