
Mode Mutakhir?
Di Inggris, sepatu bersol tebal, ”aksesori yang sangat penting bagi remaja-remaja yang menggandrungi mode”, dan sepatu dengan hak tinggi mengakibatkan 10.000 kasus cedera per tahun, lapor The Times di London. Steve Tyler, juru bicara British Standard Institution, mengatakan, ”Cedera yang paling umum adalah kaki terkilir atau keseleo dan patah kaki, namun sepatu jenis ini juga dapat menyebabkan masalah punggung, khususnya bagi gadis-gadis remaja yang sedang bertumbuh.” Di Jepang, sepatu bersol tebal telah mengakibatkan kematian dua wanita dalam beberapa bulan belakangan ini. Pada satu kasus, seorang karyawan sekolah play group, yang memakai sandal dengan tebal sol 12 sentimeter, tersandung hingga jatuh, kepalanya retak, dan meninggal. Seorang wanita muda lain tewas sewaktu mobil yang ditumpanginya menabrak tiang beton akibat si pengemudi tidak dapat menginjak rem dengan benar karena bersepatu bot dengan sol setebal 15 sentimeter. Agar terhindar dari tuntutan hukum, beberapa pabrik sepatu mulai menempelkan label peringatan pada sepatu yang mereka produksi.
Tugas Rumah Tangga Bagi Anak-Anak
”Orang-tua yang sibuk zaman sekarang menjadi lengah dalam menugasi anak-anak mereka membantu melakukan pekerjaan rumah tangga,” lapor The Toronto Star. Meskipun tugas rumah tangga ”tidak akan pernah menjadi tugas utama anak-anak”, kata Jane Nelsen, pengarang buku Positive Discipline, tugas-tugas demikian ”dapat membangun kemandirian dan harga diri”. Menurut sebuah penelitian yang dimuat di majalah Child, beberapa tugas rumah tangga yang realistis bagi anak berusia dua sampai tiga tahun mencakup membereskan mainan dan menaruh pakaian kotor di keranjang cucian. Anak berusia tiga hingga empat tahun dapat menata meja, menaruh piring-piring kotor ke bak cuci piring, dan menjaga tempat bermain mereka tetap bersih dan rapi. Anak berusia 5 hingga 9 tahun dapat merapikan tempat tidur mereka sendiri, menyapu dedaunan, dan mencabuti ilalang, sedangkan anak usia 9 hingga 12 tahun dapat mencuci dan mengeringkan piring, membuang sampah, memotong rumput, dan menyedot debu. Nelsen menambahkan bahwa ”kalau tenggat waktu diberikan, hasilnya akan lebih baik”.
Remaja dan Kejahatan
Sebuah survei oleh Scottish Executive mengungkapkan bahwa di Skotlandia, 85 persen remaja putra dan 67 persen remaja putri berusia 14 hingga 15 tahun mengaku telah melakukan kejahatan pada tahun sebelumnya. Surat kabar The Herald di Glasgow melaporkan bahwa dari antara 1.000 siswa yang disurvei di enam sekolah, hanya 12 persen yang mengatakan bahwa mereka tidak pernah melakukan pelanggaran apa pun. Tentang bentuk kejahatannya, 69 persen remaja putra dan 56 persen remaja putri mengaku telah melakukan perusakan. Sekitar 66 persen remaja putra dan 53 persen remaja putri mengutil, dan hampir setengah dari mereka semua mencuri di sekolah. Kejahatan lainnya mencakup tindakan pembakaran dan penggunaan senjata dengan maksud mencederai. Remaja dari kelompok usia ini menuding tekanan teman sebagai alasan utama di balik kejahatan-kejahatan mereka, sedangkan bagi remaja berusia di atas 15 tahun, kemungkinan besar alasannya ialah untuk membiayai kecanduan narkoba.
Siswa-Siswa Urakan
Biasanya, pemberontakan remaja jarang sekali terjadi di Jepang. Namun, sekarang, para guru sekolah di seluruh Jepang melaporkan bahwa semakin sulit menertibkan kelas karena siswa-siswanya yang bandel dan urakan. Pemerintah metropolitan Tokyo menanyai siswa berusia 9, 11, dan 14 tahun untuk mencari tahu perasaan mereka sebenarnya terhadap orang lain. Menurut surat kabar The Daily Yomiuri, 65 persen menjawab bahwa mereka merasa jengkel dan muak terhadap teman mereka, 60 persen terhadap orang-tua, dan 50 persen terhadap guru. Empat puluh persen siswa mengatakan bahwa mereka jarang atau tidak pernah sanggup mengendalikan kemarahan mereka. Satu dari lima siswa mengatakan bahwa mereka melampiaskan kemarahan dengan merusak barang-barang.
”Virus Misterius”
”Suatu virus misterius sedang mencemari persediaan darah di seluruh dunia,” lapor New Scientist. ”Tidak ada yang tahu apakah virus ’TT’ ini berbahaya atau tidak, namun ada kekhawatiran bahwa virus ini dapat menyebabkan penyakit liver.” Virus yang pertama kali terdeteksi dalam darah seorang pasien asal Jepang dan dinamai TT menurut inisial pasien ini, telah ditemukan dalam ”darah donor maupun darah pasien penderita penyakit liver yang sedang menjalani transfusi”. Bahkan, sebuah penelitian menyingkapkan bahwa virus ini terdapat pada 8 dari 102 donor asal Kalifornia yang darahnya dinyatakan tidak mengandung virus apa pun, termasuk HIV serta hepatitis B dan C. Diperkirakan, di Inggris tingkat infeksinya 2 persen, di Prancis 4 hingga 6 persen, di Amerika Serikat 8 hingga 10 persen, dan di Jepang 13 persen. Para ilmuwan yang ”sedang meneliti virus TT di seluruh dunia sangat berharap agar mereka tidak menimbulkan kepanikan”, kata artikel di majalah itu, tetapi sedang ”mencari tahu apakah virus ini membahayakan kesehatan atau tidak”.
From Watchtower Publications 8th Jun, 2000




