Mengamati Dunia -14-
Rongsokan Kapal Tertua di Dunia
Para ahli kelautan telah menemukan rongsokan dua kapal Fenisia yang berasal dari sekitar tahun 750 SM, lapor majalah Prancis, Sciences et avenir. Kapal yang berukuran 15 dan 18 meter ini, tergeletak di lepas pantai Israel pada kedalaman 500 meter, merupakan kapal tertua yang pernah ditemukan di laut lepas. Kapal-kapal itu berangkat dari pelabuhan Tirus membawa kendi anggur, kemungkinan besar menuju Mesir atau kota Kartago di Afrika Utara. Seperti dikutip oleh International Herald Tribune, penemu rongsokan tersebut, Robert Ballard, berkomentar, ”Dalamnya lautan, tidak adanya sinar matahari, dan tingginya tekanan, tampaknya melestarikan sejarah lebih lama daripada perkiraan kita.” Para peneliti mengatakan bahwa penemuan ini ”dapat turut membuka cakrawala baru dalam penelitian kebudayaan bahari zaman dahulu ini”.
Dalam sebuah penelitian baru-baru ini, kepada 1.000 orang di 30 negeri ditanyakan, kegiatan apa yang mereka sukai untuk meringankan atau mengatasi stres. Dari seluruh dunia, 56 persen orang yang diwawancarai menunjukkan bahwa musik adalah pilihan pertama mereka, lapor kantor berita Reuters. Di Amerika Utara, 64 persen menempatkan musik pada urutan pertama, dibandingkan dengan 46 persen di negeri-negeri maju Asia. Secara keseluruhan, menonton TV berada pada urutan kedua, diikuti oleh mandi. ”Kalau kita pikirkan tentang biaya musik dan kemudahan yang didapat lewat radio, TV, pemutar CD pribadi, Internet, dan begitu banyaknya saluran baru,” kata Tom Miller, direktur penelitian oleh Roper Starch Worldwide, ”tidaklah mengejutkan mengapa lebih dari setengah penduduk dunia mendengarkan musik untuk rileks.”
Presiden Bank Dunia, James D. Wolfensohn, baru-baru ini menyuarakan keprihatinan tentang kemiskinan sedunia yang terus berlanjut. Wolfensohn mengatakan bahwa sepertiga dari enam miliar penduduk bumi masih hidup dalam kemiskinan yang ekstrem, lapor surat kabar Mexico City, La Jornada. Ia menambahkan bahwa setengah dari penduduk bumi bertahan dengan kurang dari dua dolar AS sehari; dan satu miliar orang dengan kurang dari satu dolar. Meskipun bangga akan kemajuan yang dicapai Bank Dunia dalam memerangi kemiskinan, Wolfensohn memberikan angka-angka yang menunjukkan bahwa problem tersebut meluas dan sama sekali belum tuntas. Ia menyatakan, ”Kita harus menyadari bahwa kemiskinan adalah problem sedunia.”
Beberapa jamur, seperti yang ada pada keju biru, aman untuk dimakan. Tapi, jamur-jamur lain dapat berbahaya, khususnya terhadap orang-orang yang sering sakit, UC Berkeley Wellness Letter memperingatkan. Jamur pada roti dan produk biji-bijian termasuk yang paling beracun. Sering kali, jamur yang terlihat ini memiliki benang-benang seperti akar yang menembus ke dalam makanan. Selain itu, zat racun yang dihasilkan jamur tidak dapat hancur dengan memasaknya. Wellness Letter menyarankan:
▪ Jika mungkin, bekukan bahan makanan, dan gunakan sebelum tumbuh jamur.
▪ Buang buah-buahan kecil, seperti arbei atau anggur, yang berjamur. Cucilah buah-buahan hanya jika Anda akan segera memakannya, karena kelembapan mengundang jamur.
▪ Bagian kecil yang berjamur pada buah-buahan atau sayur-sayuran yang besar dan keras, seperti apel, kentang, kembang kol, atau bawang merah, dapat dengan aman dipotong dan dibuang. Buah-buahan lembek, seperti persik dan melon, yang sudah berjamur harus dibuang.
▪ Keju keras yang berjamur mungkin dapat diselamatkan dengan memotong bagian paling luar, setidaknya berjarak 2-3 sentimeter dari jamur. Tapi, buanglah keju lembek dan yoghurt yang berjamur, begitu pula roti, daging, sisa-sisa makanan, kacang, selai kacang, sirup, dan makanan kaleng yang sudah berjamur.
”Daging yang kurang matang selalu menjadi masalah kesehatan makanan, namun tahun-tahun belakangan ini, daging yang terlalu matang—khususnya daging sapi, ayam, dan ikan yang dibakar hingga kehitaman di halaman belakang rumah—dihubungkan dengan ancaman kesehatan jangka panjang,” kata surat kabar Kanada, National Post. Sewaktu daging dimasak pada suhu tinggi, terbentuklah senyawa karsinogenik yang disebut amin heterosiklik (HCA). Laporan tersebut menyarankan bahwa menggunakan bumbu perendam sederhana yang mengandung ”bahan asam, seperti jus lemon, jus jeruk, atau cuka”, dapat membuat pemanggangan lebih aman. Setelah berulang-ulang mencoba, para peneliti di Institut Riset Kanker Amerika ”menemukan bahwa makanan yang direndam bumbu mengandung 92% hingga 99% lebih sedikit HCA-nya daripada makanan yang tidak direndam—dan hasilnya sama, baik direndam selama 40 menit maupun dua hari”.
From Watchtower Publications 8th Apr, 2000





