Sekilas Cerita Dibalik Awakening Drakania: Destruction Takes Flight – Black Desert Online

#Halaman ini merupakan bagian dari Walkthrough Black Desert Online#

Ynix ialah api yang dapat melenyapkan para dewa. Tahukah kamu seberapa besar kekuatan dahsyat darinya yang dapat ditanggung oleh manusia biasa?

Wahai putriku, ketahuilah, bahwasannya sifat tamak adalah sumber dari kemurkaan. Dan kamu harus tahu bahwasannya api yang menyulutnya harus segera dipadamkan agar surga naga yang telah lama hilang dapat kembali.

Surga. Tempat yang tak dapat dicapai atau mungkin juga ia tak pernah berwujud. Aku mendengar suara yang suram lagi dalam, aku pun berjalan melangkahkan kakiku di sepanjang tepian tebing yang tak berujung sambil melihat tulang belulang dari kerabatku yang jatuh berguguran. Di jalan yang kehilangan warna dan kehidupan ini, terkadang aku berharap untuk berlepas diri darinya. Terbang meluncur tinggi ke angkasa luas, mengingat bahwasannya aku masih ada dan hidup, namun…

“Dengan membentangkan sayap ini berarti kamu siap untuk mati. Karena tiran yang bengis itu masih menguasai langit.”

Setiap kali pikiran itu datang kepadaku, ia bergema layaknya suara yang masuk ke dalam telinga, suara itu bukan berasal dariku, ia datang begitu saja layaknya maklumat yang tidak diharapkan kedatangannya. Ingatlah, sayap yang terbelenggu tidak lebih seperti penyakit pada punggung seseorang. Sudah begitu lama para naga terjepit di bawah kekuasaan tiran. Hingga suara itu datang menghampiri diliputi dengan rasa dengki yang begitu dalam, memanggil di ujung jalan yang pahit itu.

“Bangunlah surgamu di atas tubuhku. Dengan kematianku ini, aku akan menghancurkan gunung emas sekalipun.”

Sebuah jeritan terdengar keras, sebuah cahaya yang bersinar cemerlang masuk ke dalam lubang kecil layaknya pupil mata di sebuah penghalang yang menandakan akhir dari jalan yang pahit ini. Celah itu semakin melebar, cahayanya semakin terang benderang bersamaan dengannya penghalang itupun ikut runtuh. Kulihat seseorang sedang menunggu di ujung sana, dengan tangan yang terentang. Apakah dia yang membawa kita kesini? Jantungku berdebar sangat kencang dipenuhi rasa kegirangan.

“Kemarilah wahai keturunan naga yang lemah.”

Udara sekitar bercampur dengan bau darah yang mengalir dari rahangnya. Itu adalah darah dari kerabatku yang mati, yang saling terikat karena dendam, kebencian dan juga air mata mereka, kerabat yang bersama-sama menjalani suka maupun duka. Terukir jelas dalam aliran darah ini kenangan manis bersama dengan mereka yang juga kenangan terakhir dari kalanganku. Entah bagaimana, segala hal yang belum pernah aku lihat, dengar maupun alami, namun aku dapat merasakan kehadiran diriku disana.

“Aku adalah Erethea, penyihir ketujuh dari Eternal Winter.”

“Katakan padaku, berapa banyak jantung naga yang telah tertusuk oleh kekuatan peniadaan yang dapat menghilangkan rasa takut dari seseorang yang kamu klaim sebagai tiran?”

Pakaiannya compang camping, saat ia batuk, ia mengeluarkan darah dan saat ia bersuara, suaranya yang serak menggelegar dengan riang gembira.

“Kemarilah, ambilah jantungku dan makanlah. Sesungguhnya ia telah dipermanis dengan rasa benci yang tak terhitung dari para naga yang gugur.”

Tawa penyihir itu menyulut kembali rasa lapar di dalam diri mereka. Tidak ada yang bertanya mengapa ia memilih kematian ini. Semuanya berusaha memuaskan rasa lapar mereka untuk membalaskan dendam. Pesta makan memakan itu dipenuhi oleh gigi dan otot. Namun disaat aku tersadar, diriku melihat bayangan kami semua terpantul dari matanya yang kosong. Aku menahan jantungnya yang masih berdetak di mulutku.

“Semuanya sudah berakhir, anakku. Kini dendamku akan hidup untuk selama-lamanya.” 

Tidak ada satu teriakanpun yang keluar dari bibirnya, saat sang penyihir berbaring tanpa nyawa, senyumnya seperti meledek kami. Apakah pembangkangannya menambah kemarahan kami? Jantungku mulai berpacu tak terkendali.

“Terbanglah ke langit dengan kekuatan dari jantungku ini. Dengan matamu aku akan menyaksikan gunung-gunung emas itu hancur.”

Kini sayapku tidak lagi terikat, mereka perlahan membentang disaat aku menatap ke tepian. Hembusan angin bertiup di kulitku, seakan memberikan isyarat dibawah cahaya yang menyilaukan. Frustrasi, keputusasaan, dan pesona surga yang memikat menggelitik hidungku.

“Nyatakan dengan lantang kepada inkarnasi Labreska bahwasannya era baru telah tiba! Dengan kekuatan peniadaan ini akan tiba saatnya kehancuran gunung emas!”

Dengan bisikan makhluk yang berada di dalam tubuhku ini, bersayap hitam, kurang dari satu mata, suaranya terus bergema di dalam kepalaku. Aku pun berdiri di tepi tebing dengan sayap yang telah terbentang lebar. Momen-momen penerbangan telah melintas berkali-kali dalam pikiranku. Dengan rasa haus yang membara, tersulut oleh angin kebebasan di langit yang mempesona, kini aku siap.

“Ayo, kepakkan sayap kehancuranmu. Surga para naga yang telah hilang menanti kehadiramu.”

#Halaman ini merupakan bagian dari Walkthrough Black Desert Online#