Kencing Sambil Berdiri dan Duduk

باب الْبَوْلِ قَائِمًا وَقَاعِدًا
224- حَدَّثَنَا آدَمُ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ الأَعْمَشِ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ “أَتَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُبَاطَةَ قَوْمٍ فَبَالَ قَائِمًا ثُمَّ دَعَا بِمَاءٍ فَجِئْتُهُ بِمَاءٍ فَتَوَضَّأَ”.
[الحديث224- أطرافه في: 2471,226,225]

Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al A’masy dari Abu Wa’il dari Hudzaifah berkata, “Nabi saw mendatangi tempat pembuangan sampah suatu kaum, beliau lalu kencing sambil berdiri. Kemudian beliau meminta air, maka aku pun datang dengan membawa air, kemudian beliau berwudlu.” (Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari bissyarhi Shahih Al-Bukhari, Jilid I, hadits no.199. Kaira: Penerbit Darul Hadits, 2004. Hal. 389)


FAIDAH HADITS

  • Kalau manusia belum tahu salahnya apa, maka itu belum menjadi ilmu.
  • Petikan hadis di atas ini adalah untuk menunjukkan bahawa harus kencing sambil berdiri. Tetapi ia bukan untuk menunjukkan kebiasaan Rasulullah SAW kencing sambil berdiri. Kebiasaan Rasulullah ialah kencing secara duduk.
  • Imam An-Nawawi mengatakan kencing dalam keadaan duduk adalah lebih baik mengikutnya pandanganku, namun jika seseorang kencing dalam keadaan berdiri, maka itu juga tetap di bolehkan. Kedua-dua keadaan ini pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW.
  • Dilalah hadits ini menunjukan bahwa kencing sambil duduk lebih utama daripada sambil berdiri, karena apabila kencing sambil berdiri itu di perbolehkan, apalagi jika sambil duduk, tentu saja lebih diperbolehkan (Ibnu Bathal).
  • Ucapan lebih kuat (utama) daripada perbuatan, ucapan qath’i (pasti dalam istilah tarjih), sedangkan perbuatan masih mengandung ihtimal (kemungkinan) .
  • Nabi lebih sering kencing sambil duduk, dikarenakan kencing sambil duduk itu, lebih tertutup dari kelihatan aurat dan lebih terjaga dari terkena percikan air kencing ketika buang air, karena secara fisika jarak kencing terhadap tanah lebih dekat sehingga pantulan percikan airnya tidak terlalu deras dan lebih aman agar tidak memantul mengenai pakaian, sedangkan sambil berdiri akan lebih deras dan pantulan air kencingnya lebih cepat, maka di butuhkan kehati-hatian ketika kencing, karena dikhawatirkan dapat mengenai pakaian yang akan hendak kita pakai untuk shalat.
  • Syighoh ‘an عن bukan menunjukan tadlis didalam hadits ini, tapi bagi Imam Bukhari walaupun pakai ‘an عن , tapi maksudnya haddatsa حدّث, Imam Bukhari memakai ‘an عن menunjukan lil qasri (meringkas), karenanya pada riwayat Imam Ahmad terdapat dengan menggunakan syigoh haddatsani حدّثني
  • Dianjurkan kencing itu pada tempat yang memang biasa dipakai untuk kencing, tidak ditempat umum atau sembarangan tempat, kecuali dalam keadaan darurat diperbolehkan, tetapi tetap harus tetap tertutup dan terjaga dari pandangan manusia.