Mengamati Dunia -18-
Anak-Anak yang Menghirup Asap Rokok
Hampir setengah dari anak-anak di dunia tinggal bersama perokok,” kata University of California Berkeley Wellness Letter, sewaktu mengomentari laporan baru-baru ini dari Organisasi Kesehatan Dunia. ”Itu berarti lebih dari 700 juta anak.” Mengingat jumlah perokok dewasa diperkirakan akan meningkat menjadi 1,6 miliar dalam 20 tahun mendatang, berarti lebih banyak lagi anak yang akan menghirup asap rokok. Anak-anak ini akan semakin berisiko terkena penyakit seperti infeksi telinga dan gangguan pernapasan.
”Ini adalah barang yang paling laris sepanjang sejarah,” kata surat kabar Star-Telegram dari Forth Worth, Texas. ”Sebagai lambang kebudayaan dan standar kerohanian, Alkitab dijunjung oleh tiga agama besar dunia yang memiliki miliaran penganut. Tetapi, hanya sedikit sekali yang membaca Alkitab, suatu paradoks yang bahkan tidak akan sanggup dipecahkan oleh raja Salomo yang berhikmat.” Namun, penjualan Alkitab mencapai rekor baru, dan menurut sebuah perusahaan riset, kebanyakan orang Amerika—lebih dari 90 persen —konon memiliki rata-rata tiga versi Alkitab. Tetapi, sebuah survei menunjukkan bahwa dua pertiga dari mereka jarang membaca Alkitab. Sebagian besar bahkan tidak dapat menyebut nama keempat Injil atau mengutip lima dari Sepuluh Perintah. ”Dan, mayoritas berpendapat bahwa Alkitab tidak relevan,” tambah surat kabar itu.
Orang-orang Inggris ”sebentar lagi akan menyanyikan lagu sepak bola di gereja” kalau mereka memilih menggunakan buku nyanyian yang baru, berjudul Songs for the New Millennium (Lagu-Lagu untuk Milenium Baru), lapor The Times dari London. Buku yang diterbitkan bersama-sama oleh Gereja Inggris dan Gereja Metodis ini berisi beberapa himne yang ditujukan kepada ”Allah ibu yang kami kasihi”. Salah satu himnenya berisi permohonan meminta ”kasih keibuan”, dan di seluruh syairnya, Allah dinyatakan berjenis kelamin wanita. Dalam lagu yang lain, Yesus digambarkan sebagai ”manajer dan sekaligus pemain” dari sebuah tim sepak bola, dan refreinnya diambil dari sebuah lagu sepak bola yang terkenal. Beberapa lagu ditulis oleh anak-anak, termasuk sekelompok anak yatim piatu yang orang-tuanya meninggal akibat AIDS. Dave Hardman, salah seorang promotor proyek itu, berkata, ”Ini adalah buku nyanyian yang mengawinkan semua tradisi. Kami ingin para penulisnya menghadapi kenyataan hidup melalui kaca mata iman.”
Mesir punya problem yang unik—terlalu banyak benda kuno. Temuan-temuan baru terus diumumkan, beberapa di antaranya: makam inang pengasuh Tutankhamen yang didekorasi dengan indah di Saqqâra, puncak piramida di Dahshûr, tembok kuil yang sangat besar di Akhmīm, kompleks pemakaman bawah tanah yang sangat luas berisi lebih dari 200 ruangan di Luxor, pahatan dan artifak lain dari pelabuhan dan istana yang tenggelam di lepas pantai Aleksandria. Museum Mesir di Kairo memajang lebih dari 120.000 benda kuno, dan yang disimpan di gudang lebih banyak lagi. ”Setiap minggu, selalu ada temuan baru yang menarik, membuat gudang-gudang semakin penuh sesak dan menuntut lebih banyak waktu serta uang dari pihak-pihak yang menganalisis, mengklasifikasi, dan memugar artifak-artifak tersebut,” kata The Economist. Penemuan sebuah pekuburan di gurun yang kemungkinan berisi 10.000 kuburan membuat seorang arkeolog berkata, ”Kita punya terlalu banyak mumi.” Hanya yang menonjol saja yang akan dipamerkan. Sisanya dikuburkan kembali.
Angola merupakan salah satu tempat yang paling padat ranjau darat di dunia. Tetapi, para penyapu ranjau darat di sana menghadapi masalah baru: merekalah sasaran ranjau-ranjau itu. Menurut The Sunday Times dari London, ”para pakar pengangkat ranjau telah menemukan dua jenis sakelar yang terpasang di ranjau. Satu sakelar meledakkan ranjau sewaktu terkena cahaya, dan sakelar ini bertenaga baterai yang dapat bertahan hingga setahun. Sakelar satunya lagi menggunakan gulungan atau kumparan magnetik yang dirancang untuk meledakkan ranjau sewaktu mendeteksi perlengkapan penyapu ranjau” hingga sejauh 20 meter. ”Dengan kata lain, ini adalah ’ranjau antipengangkat ranjau’,” kata Tim Carstairs dari Mines Advisory Group. ”Ranjau ini dirancang khusus untuk membunuh orang-orang seperti para sukarelawan kami, yang berupaya membantu masyarakat dengan menyingkirkan ranjau darat.” Sekarang, ada kira-kira 70.000 korban amputasi akibat ledakan ranjau di Angola—angka tertinggi di dunia—dan para dokter mengamputasi rata-rata 35 orang setiap bulan. Karena pihak-pihak yang bertikai dalam perang sipil di Angola terus menanam ranjau, para petani pun meninggalkan ladang mereka dan tidak ada persediaan makanan di kota-kota. Sekjen PBB Kofi Annan memperingatkan bahwa ”ratusan ribu orang Angola menghadapi malnutrisi yang parah, penyakit, dan kematian”.
From Watchtower Publications 8th May, 2000





