Mengamati Dunia -7-

mengamati dunia

Mengamati Dunia -7-

Bahaya Tembakau Bagi Anak-Anak

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa 50 persen anak-anak sedunia sedang terancam kesehatannya karena menghirup asap tembakau, lapor surat kabar Guardian dari London. Gangguan kesehatan perokok pasif dapat berupa asma dan gangguan pernapasan lainnya, sindrom kematian bayi secara mendadak, penyakit telinga bagian tengah, dan kanker. Riset juga menunjukkan bahwa anak yang orang-tuanya perokok lebih lemah secara akademis dan memiliki lebih banyak problem perilaku.

bahayarokokbagianak

Anak-anak yang kedua orang tuanya adalah perokok 70 persen lebih besar kemungkinan mengalami problem kesehatan, dan bahkan seorang perokok saja dalam keluarga akan meningkatkan kemungkinan itu sebesar 30 persen. WHO mendesak diadakannya penyuluhan kesehatan untuk menggugah kesadaran orang-tua terhadap bahaya dari kebiasaan merokok terhadap keluarga, dan diberlakukannya larangan merokok di sekolah serta tempat-tempat lain yang sering dikunjungi anak-anak.

Sukses Pariwisata

Menurut perkiraan Organisasi Pariwisata Dunia (WTO), ”kunjungan wisatawan internasional akan meningkat dari 625 juta setahun menjadi 1,6 miliar pada tahun 2020”, lapor The UNESCO Courier. Para wisatawan ini diharapkan membelanjakan lebih dari dua triliun dolar AS, ”menjadikan pariwisata sebagai sektor industri utama di dunia”.

suksespariwisata

Selama ini, Eropa telah menjadi tujuan wisata terpopuler. Prancis adalah negara yang paling banyak dikunjungi, dengan 70 juta pengunjung pada tahun 1998. Namun, pada tahun 2020, diperkirakan Cina akan menempati peringkat pertama. Akan tetapi, wisata internasional baru dapat dinikmati oleh segelintir orang saja. Pada tahun 1996, hanya 3,5 persen penduduk dunia yang mengadakan perjalanan ke luar negeri. WTO memperkirakan angka ini akan meningkat menjadi 7 persen pada tahun 2020.

Bahaya Liburan Akhir Pekan?

Minibreak, atau liburan akhir pekan yang akhir-akhir ini dipromosikan oleh industri wisata Eropa sebagai cara yang cepat dan mudah untuk melepaskan ketegangan hidup, sebenarnya ”justru lebih berbahaya”, lapor surat kabar Guardian dari London. Menurut kardiolog dr. Walter Pasini dari WHO, mengepak barang, bergegas ke bandara, dan terbang, disertai perubahan suhu, makanan, dan zona waktu, dapat menyebabkan kelelahan dan sangat berbahaya. Tubuh membutuhkan waktu beberapa hari untuk relaks dan menyesuaikan dengan iklim serta gaya hidup yang berbeda, dan jika ini tidak terjadi, sirkulasi dan pola tidur dapat sangat terganggu.

bahayaliburanakhirpekan

Hasil penelitian dr. Pasini ”menunjukkan bahwa orang-orang yang berlibur hanya beberapa hari 17% lebih rentan terhadap serangan jantung, dan 12% lebih besar kemungkinan mengalami kecelakaan mobil daripada orang yang berlibur selama seminggu atau lebih,” kata surat kabar itu. ”Saya tidak memaksudkan bahwa liburan pendek selalu berbahaya, namun orang-orang perlu waspada dan mempersiapkan diri sepatutnya,” kata dr. Pasini, yang dikutip oleh Daily Telegraph London. ”Kini, orang-orang semakin mempersingkat liburan dan berupaya menjejalkan semuanya dalam beberapa hari, padahal itu bukan cara yang baik untuk relaks. Sebenarnya, itu malah menyebabkan stres.”

Pembalasan Ular Derik

”Ular derik dapat menyerang Anda bahkan setelah mereka dibunuh—dan yang mengejutkan, pembalasan dendam yang aneh ini sudah biasa terjadi,” lapor New Scientist. Dua dokter yang mempelajari fenomena ini mengatakan bahwa 5 dari 34 pasien yang menderita akibat gigitan ular derik, yang dirawat di Arizona, AS, selama lebih dari 11 bulan, melaporkan bahwa si ular menyerang mereka setelah dibunuh. Seorang korban menembak seekor ular, memotong tubuhnya di bagian bawah kepalanya, menunggu sesaat sampai ular itu tidak bergerak, kemudian memungut kepalanya.

pembalasanularderik

Tiba-tiba, ular itu meronta dan menggigit kedua tangan orang itu. Studi yang diadakan sebelumnya menunjukkan bahwa kepala ular yang sudah terpotong, seperti dikatakan majalah itu, ”akan mencoba menyerang objek yang bergerak di depannya hingga satu jam setelah mati”. Seorang herpetolog (ahli reptil dan amfibi) percaya bahwa itu adalah ”gerakan refleks, dipicu oleh sensor infra merah yang mendeteksi panas tubuh, yang terdapat di rongga antara hidung dan mata”. Dr. Jeffrey Suchard memperingatkan bahwa ular yang telah terpenggal kepalanya hendaknya dianggap seekor ”ular yang sangat pendek”. ”Jika Anda benar-benar harus menyentuhnya,” katanya, ”saya sarankan Anda menggunakan tongkat yang sangat panjang.”

From Watchtower Publications 8th Feb, 2000