![]()
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ قَامَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي الْمَسْجِدِ فَتَنَاوَلَهُ النَّاسُ فَقَالَ لَهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعُوهُ وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ
Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman berkata, telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri berkata, telah mengabarkan kepadaku ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud bahwa Abu Hurairah berkata, “Seorang ‘Arab badui berdiri dan kencing di Masjid, lalu orang-orang ingin mengusirnya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda kepada mereka: “Biarkanlah dia dan siramlah bekas kencingnya dengan setimba air, atau dengan seember air, sesungguhnya kalian diutus untuk memberi kemudahan dan tidak diutus untuk membuat kesulitan.”
(Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari bissyarhi Shahih Al-Bukhari, Jilid I, hadits no.199. Kaira: Penerbit Darul Hadits, 2004. Hal. 386)
FAIDAH HADITS
- Mengajar itu harus dapat muyassirin (memudahkan) kepada muridnya, bukan malah sebaliknya mu’assirin (mempersulit) muridnya. Namun terkadang bagi sebagian murid justru kalau diberi yang mudah menjadi sulit, maka tugas kita adalah menempatkan sesuatu sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada secara proporsional dan profesional (kedah tiasa merenahkeunnana).
- Tatkala seseorang sudah mempunyai kemampuan, maka dia akan meminta rivalitas yang seimbang dengan dirinya.
- Kemampuan itu akan terus berkembang, jika tidak ada partner yang dapat menyeimbangkan kemampuannya, maka akan bosan.
- Manusia itu cepat bosan, maka kita harus jadi “umatan washatan”. Dan pada suatu kondisi kita akan mengalami puncak kejenuhan, maka untuk mengatasi hal itu diperlukan ada penyeimbangnya.
- Bagi sahabat Nabi didoakan oleh Nabi itu adalah sesuatu yang luar biasa.
- Ada akumulasi kemarahan dari para sahabat ketika melihat seorang arab gunung itu kencing di sudut mesjid, namun Nabi dapat meredamnya.
- Seorang guru itu harus jeli dalam memandang situasi dan kondisi dan harus dapat mencegah (preventif) terhadap sesuatu yang dapat menimbulkan madlorot yang lebih besar.
- Terkadang dalam kondisi yang sama, namun cara menyampaikan bisa berbeda, karena hal itu disesuaikan dengan suasana hati yang diajak bicara.
- Pada dasarnya secara fitrah manusia itu egois.
- Terkadang manusia itu mengkhianati ilmunya sendiri dan kejujuran hatinya sendiri, sampai hatipun bosan mengingatkan dirinya sendiri. Apabila hati sudah bosan mengingatkan dirinya sendiri, maka dia akan menganggap dosa adalah hal yang biasa saja, dikarenakan hatinya sudah mati.
- Ketika kita mencintai Allah, maka dia itu mencintai dirinya sendiri.
- Rasa cinta dan kesukaan terhadap sesuatu bisa menumbuhkan tenaga, maka kita bisa mengarahkan kecintaan kita kearah yang lebih bermanfaat.
- Mindset “al-kayisu” (orang yang cerdas) menanamkan keyakinan bahwa akhirat itu baik dan lebih kekal, kalau semua berpikir seperti itu, maka otomatis dakwah itu tidak akan ribet (riweuh) dan putus asa.
- Kita itu harus seperti rumah sakit dan jangan seperti warung kopi.
- Secara manusiawi Nabi suka memperhitungkan dengan sesuatu yang bersifat dunyawiah.
- Jangan menyempitkan rahmat Allah yang luas.
- Siapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengenal tuhannya.
- Tidak ada orang yang bisa melebihi teknologi Allah.
- Sangat hebatnya manusia, otak manusa mah sagala asup.
- Dengan akalnya manusia mampu mengakui bahwa Allah adalah tuhannya, maka disini perlu adanya pembimbing (mursyid/murabbi) untuk mengarahkan akal kita.
- Nabi adalah contoh nyata bahwa Al-Quran adalah asas pedoman kehidupan yang terbaik. Kalau kita tidak mengikuti Nabi, lantas kita mau mengikuti siapa?
- Hidup itu fluktuatif, maka kita mesti menjaga kepercayaan (husnuzhan) orang lain.
- Kondisi dan lingkungan seseorang akan mempengaruhi kondisi seseorang. Orang arab gunung kebanyakan kasar.
- Keberadaan Nabi adalah harta yang paling berharga, karena dengan Nabi itu berarti adanya tempat bertanya untuk mengatasi problema-problema dalam kehidupan.
- Tugas kaum muda adalah mengisi kekosongan yang dirasakan oleh umat.
- Yang sulit itu bukan ilmunya, tapi menyikapi ilmunya.
- Apabila Ulama meninggal akan timbul kekhawatiran, “kemana kita akan bertanya jika mereka sudah tidak ada?”.
- Nabi adalah penjawab akar masalah. Ketika ada yang bertanya maka Nabi memperhatikan pertanyaan dan kondisi orang yang bertanya sampai Nabi dapat menjawab sampai kepada akar masalahnya.
- Lilin tetap akan bercahaya dikegelapan malam.
